Bangunan yang bernapas seperti tubuh manusia.

Selain pembagian zona tapak di atas tanah, bangunan tradisional Bali dipandang sebagai kesatuan organik. Konsep Tri Angga menyelaraskan atap, tiang saka, dan pondasi bebaturan dengan anatomi kepala, badan, dan kaki manusia.

Anatomi 2D Tri Angga pada Bale Bali.

Pilih salah satu tingkatan di bawah untuk menyorot bagian struktur bangunan dan analoginya dengan tubuh manusia. [B-05] [B-06] [B-07]

Tiga Lapisan Konstruksi

Tri Angga: atap, badan, dan dasar bangunan
Tampilkan utuh: atap, badan, dan dasar bangunan.

Enam modul khazanah arsitektur Bali.

Setiap modul disusun berdasarkan rujukan resmi dan jurnal akademik untuk menjelaskan prinsip budaya di balik tata ruang.

Modul 01

Tri Mandala & Sanga Mandala

Tri Mandala membagi ruang ke dalam tiga derajat kesakralan: Utama (hulu/suci), Madya (tengah/kehidupan sehari-hari), dan Nista (hilir/pelayanan). Saat diterapkan secara menyilang pada sumbu Kaja–Kelod dan Kangin–Kauh, lahirlah Sanga Mandala (9 zona).

[B-01] [B-06]
Modul 02

Tri Hita Karana dalam Hunian

Tiga penyebab kesejahteraan hidup terwujud nyata di pekarangan: Parahyangan (hubungan spiritual, melalui area suci Sanggah/Merajan), Pawongan (harmoni antar-penghuni di bale dan natah), serta Palemahan (kelestarian alam lewat ruang terbuka hijau dan teba).

[B-01] [B-06]
Modul 03

Tri Angga pada Konstruksi Bale

Setiap unit bangunan dipandang hidup seperti manusia: Utama Angga berupa atap ijuk/alang-alang yang menaungi, Madya Angga berupa tiang kayu (saka), dan Nista Angga berupa pondasi bebaturan.

[B-06]
Modul 04

Natah sebagai Jantung Pekarangan

Berbeda dengan rumah modern di bawah satu atap besar, rumah tradisional Bali terdiri atas gugusan bale terpisah yang mengelilingi Natah (pelataran terbuka di zona Madya). Natah menghadirkan cahaya alami, sirkulasi udara silang, dan panggung upacara adat.

[B-01] [B-07]
Modul 05

Kelenturan Desa, Kala, Patra

Arsitektur tradisional Bali bukan cetakan kaku yang seragam. Prinsip Desa (tempat), Kala (waktu), dan Patra (kondisi setempat) membuat orientasi Kaja–Kelod maupun susunan bale menyesuaikan topografi desa, termasuk variasi antara Bali Dataran dan Bali Aga.

[B-03] [B-04]
Modul 06

Sikut Satak & Proporsi Manusia

Sikut Satak mengenal ukuran tubuh seperti hasta, depa, musti, dan tapak sebagai acuan dalam pengukuran tradisional.

[B-05] [B-07]

Tanya jawab terkurasi arsitektur Bali.

Daftar 12 tanya jawab terkurasi mengenai kosmologi ruang, antropometri ukuran, dan filosofi konstruksi tradisional Bali berdasarkan rujukan resmi B-01 s.d. B-07.

Mengapa arah Kaja di Singaraja berbalik menghadap ke Selatan?

Dalam contoh Bali Utara, kaja mengarah ke pegunungan di selatan, sedangkan kelod mengarah ke laut di utara. Arah setempat perlu dibaca sesuai konteks lokasi. [B-03] [B-04]

Apa perbedaan antara Tri Mandala dan Sanga Mandala?

Tri Mandala membagi ruang ke dalam tiga tingkatan sakralitas: Utama (hulu/suci), Madya (tengah/aktivitas), dan Nista (hilir/pelayanan). Sanga Mandala adalah matriks sembilan zona yang tercipta saat konsep Tri Mandala dipertemukan secara bersilang dengan sumbu ritual (Kaja–Kelod) dan sumbu surya (Kangin–Kauh). [B-01] [B-06]

Mengapa Sanggah / Merajan keluarga ditempatkan di Kaja-Kangin?

Kaja-Kangin mempertemukan arah kaja dan kangin. Dalam salah satu contoh penataan pekarangan, tempat suci keluarga ditunjukkan pada bagian ini. Penempatan sesungguhnya mengikuti konteks dan aturan setempat. [B-01] [B-06]

Apa peran ruang terbuka Natah di tengah pekarangan?

Pada contoh ini, natah adalah ruang terbuka di tengah pekarangan yang menghubungkan bangunan-bangunan di sekitarnya. [B-01] [B-07]

Bagaimana cara mengukur satu Hasta pada tubuh manusia?

Satu hasta diukur dari lipatan siku hingga ujung jari tengah tangan yang direntangkan. Panjangnya berbeda untuk setiap orang. [B-05] [B-07]

Apa perbedaan fungsi satuan Hasta, Depa, dan Musti?

Hasta diukur dari siku ke ujung jari; depa dari rentangan kedua tangan; musti dari kepalan tangan dengan ibu jari tegak. Dalam salah satu sistem pengukuran, ketiganya digunakan bersama sebagai acuan ukuran. [B-05] [B-07]

Bagaimana konsep Tri Angga diwujudkan pada konstruksi Bale?

Tri Angga membaca bangunan seperti tubuh: atap sebagai bagian atas, tiang dan dinding sebagai badan, serta bebaturan sebagai bagian dasar. [B-06]

Apakah tata letak Sanga Mandala berlaku kaku dan mutlak di seluruh Bali?

Tidak. Penataan ruang perlu dibaca dengan mempertimbangkan tempat, waktu, dan keadaan setempat, yang dikenal sebagai desa kala patra. [B-01] [B-03]

Apakah semua Bale Daja memiliki bentuk yang sama?

Tidak. Kajian Bale Daja menemukan beberapa tipe dan perubahan fungsi, bukaan, serta material seiring waktu. [B-04]

Apa fungsi Bale Daja dalam pekarangan?

Kajian Bale Daja mencatat fungsi sebagai ruang tidur dan tempat menyimpan benda keluarga, serta perubahan fungsi pada perkembangannya. [B-04]

Apakah hasil kalkulator ukuran Hasta ini dapat dipakai langsung untuk konstruksi fisik?

Tidak. Perhitungan pada laboratorium Hasta adalah simulasi pembelajaran digital. Pembangunan fisik aktual memerlukan pengukuran langsung oleh undagi tradisional, penghitungan pengurip ritual, penyesuaian kontur tanah, serta standar rekayasa struktur tahan gempa. [B-05] [B-07]

Apakah ilustrasi ini menunjukkan struktur yang aman terhadap gempa?

Ilustrasi ini menjelaskan bagian bangunan, bukan kinerja strukturnya. Ketahanan bangunan terhadap gempa perlu dinilai oleh ahli berdasarkan desain, material, dan kondisi setempat.

Bagaimana kami menyusun materi ini.

Hasta merujuk pada publikasi resmi Pemerintah Provinsi Bali dan jurnal akademik arsitektur. Contoh tata letak bangunan pada denah 2D merujuk pada kajian arsitektur rumah tinggal Bali Madya untuk keperluan edukasi visual.

Penerapan nyata perlu mempertimbangkan desa, kala, patra, aturan setempat, serta bimbingan ahli atau undagi.

Ilustrasi di situs dibuat dengan AI sebagai pendamping pembelajaran, bukan dokumentasi lokasi tertentu.

Batas model pembelajaran Sanga Mandala

Kisi ini memilih satu pembacaan orientasi 3 × 3 dari perpotongan sumbu kaja-kelod dan kangin-kauh beserta contoh bangunan tipikal. Tidak semua rumah mempunyai susunan yang sama. Tidak ada klaim lokasi tempat suci yang berlaku seragam untuk seluruh desa, penghitungan pengurip, atau keluaran konstruksi bangunan yang sah.

  1. B-01 / Pemerintah Provinsi Bali Konsep Sanga Mandala dalam Arsitektur Tradisional Bali

    Taru Bali, 2024. Dasar konsep dua sumbu dan keragaman pola penerapan.

  2. B-02 / Pemerintah Provinsi Bali Arah Orientasi Ruang Wilayah

    Taru Bali. Pembacaan sumbu orientasi ruang wilayah di Bali.

  3. B-03 / Pemerintah Provinsi Bali Kaja-Kelod: Antara Gunung dan Laut, Membaca Orientasi Gumi Bali

    Taru Bali, 2026. Orientasi gunung-laut dan konteks geografis Bali Utara/Selatan.

  4. B-04 / Universitas Kristen Petra · Contextual Transformasi Arsitektur Bale Daja

    Saraswati, A. A. O., Dimensi, 2009. Konteks perbedaan orientasi Bali Utara dan Bali Selatan.

  5. B-05 / Universitas Udayana · Contextual Study of the Application of Asta Kosala Kosali and Sikut Satak

    Journal of A Sustainable Global South (JSGS), 2026. Konteks antropometri tradisional.

  6. B-06 / Jurnal Arcade Identifikasi Perubahan Konsep Arsitektur Tradisional Bali pada Hasil Revitalisasi Pasar Seni Sukawati, Bali

    Permana, Rachmawati & Cahyadini, ARCADE, 2024. Pembahasan konsep zonasi dan Tri Angga, hlm. 140.

  7. B-07 / Institut Seni Indonesia Denpasar Ashta Bhumi, Panduan Pembuatan Lay Out Ruang Bangunan Hunian Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya

    Remawa & Padmanaba, Mudra 36(1), 2021, hlm. 23–32. Definisi satuan tubuh hasta, depa, musti dan tata letak bale.